Minggu, 05 Desember 2010

Orang Atheis yang paling ikhlas di dunia

Orang Atheis yang Paling Ikhlas? Ah Masak Sih…
Nurtjahjadi
| 24 June 2010 | 17:08
Total Read
321
Total Comment
33
3 dari 7 Kompasianer menilai Bermanfaat.
Dari diskusi beberapa hari yang lalu, seseorang menyatakan bahwa :
Kalau begitu orang baik atheis adalah orang yang paling ikhlas.
Dia berbuat baik sekalipun dia tahu dia tidak mendapatkan apa-apa dari Tuhan.
Dia berbuat baik sekalipun dia tahu dia tidak akan masuk surga.
Izinkan saya bercerita sedikit tentang dialog/ diskusi seorang sahabat Nabi, tentang ikhlas :
”Ya Rasulullah, bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah kiranya engkau menjawabnya.” Apa yang hendak engkau tanyakan itu?” tanya Rasulullah dengan nada suara yang begitu lembut. Dengan sikap yang agak tegang, si sahabat itu pun bertanya, ”Siapakah di antara kami yang akan menjadi ahli surga?.”
”Engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi otang itu akan muncul.” Lalu, setiap mata menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya siapa gerangan orang hebat yang disebut Rasulullah sebagai ahli surga itu.
Namun, manakala orang itu mengucapkan salam kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan semakin bertambah. Sosok tubuh itu tidak lebih dari seorang pemuda sederhana. Ia adalah wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam daftar sahabat dekat Rasulullah.
Apa kehebatan pemuda ini? Setiap sahabat penasaran menunggu penjelasan Rasululllah Saw. Menghadapi kebisuan ini, Rasulullah Saw bersabda, ”Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia<strong ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”
Ikhlas, alangkah indahnya makna yang terkandung di dalamnya. Ikhlas bersih dari segala maksud pribadi, dari segala pamrih dan, mengharap pujian dari orang, bebas dari perhitungan untung rugi material. Ikhlas bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam raya. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai satu-satunya zat yang diharapkan, ditakuti, dicintai, diikuti. Satu-satunya zat yang diabdi dan disembah. Ikhlas menerima Muhammad Saw. sebagai teladan, penjelas, penyampai risalah Islam yang sempurna, dan ikhlas menerima Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Ikhlas adalah salah satu tiang akhlak islami, tanpa itu maka amal akan lenyap, tak ada manfaat. Jadi ikhlas adalah kualitas tertinggi kemurnian hati, hanya karena Allah dan untuk Allah. Dalam setiap perbuatan, kita dituntut untuk selalu ikhlas. Ikhlas sebelum melakukan amal, ketika sedang, dan setelah melakukannya. Contohnya, ketika kita akan bekerja maka kita niatkan hanya untuk Allah, dan sesudah bekerja pun kita tetap mengingat-ingat bahwa bekerja yang baru saja kita lakukan ikhlas karena Allah.
Di lain waktu, Nabi mendapat pertanyaan tentang ikhlas ,
”Wahai Baginda Rasul apa yang dimaksud dengan ikhlas , tanya seorang sahabatnya.
Setelah berdiam, Rasulullah memusatkan perhatian, dan menyampaikan pertanyaan serupa kepada Malaikat Jibril As
”Aku bertanya kepada Jibril As tentang ikhlas, apakah ikhlas itu?”
Lalu Jibril bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah SWT menjawab Jibril dengan berfirman,
”Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Ku-cintai.”
Kalau gambaran ikhlas itu sebagaimana diajarkan Allah SWT  melalui Jibril as  yang disampaikan kepada  Rasulullah saw  tersebut, maka betapa banyaknya di antara kita yang tidak memilikinya. Sebab, hanya hamba-hamba yang dicintai Allah saja yang dapat memiliki  ini. Menurut Imam al-Qusyairi an-Naisabury, bila seseorang memiliki sifat , ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.
Dalam tulisan saya terdahulu, saya katakan ada seorang tua yang membersihkan WC di tengah malam di saat banyak orang sedang  tertidur lelap.  Ia sedang belajar ikhlas, apakah ia mengharap ganjaran surga dari Tuhan Yang Maha Pemurah, saya tak tahu pasti.  Salahkah jika ia mengharapkan demikian ?  Saya kira tidak, selagi ia hanya berharap dan meminta kepada Tuhan saja.  Bukan mengharapkan upah atau pujian  dari  manusia, tapi hanya mengharap kepada Tuhan.  Itulah belajar ikhlas.  Ada yang dapat kefahaman,  ada yang belum, ada yang tidak.  Semua ada di tangan Allah, apakah Dia mau memberi kefahaman itu atau tidak.
di dalam Al Quran ada satu surat yang namanya surat Al Ikhlas, begini isinya :
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa”.
QS. al-Ikhlash (112) : 1
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
QS. al-Ikhlash (112) : 2
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
QS. al-Ikhlash (112) : 3
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia “.
QS. al-Ikhlash (112) : 4
Kalau sudah begitu, apakah anda akan setuju, kalau orang atheis itulah yang paling ikhlas ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar